Tragedi Runtuhnya Bangunan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Tewaskan 49 Santri

Tak ada yang menyangka sore itu akan berubah menjadi bencana. Di Buduran, Sidoarjo, sebuah pondok pesantren bernama Al Khoziny mendadak jadi pusat perhatian nasional. Bangunan yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu justru runtuh, menimbun para santri yang sedang beribadah di dalamnya.
Peristiwa memilukan ini menewaskan sedikitnya 49 orang. Para korban, mayoritas adalah remaja laki-laki berusia 12 sampai 19 tahun, menjadi saksi bisu atas lemahnya pengawasan pembangunan di lingkungan pendidikan keagamaan. Mereka tidak sedang bermain, tidak pula melakukan hal yang sembrono. Mereka hanya sedang salat berjamaah, saat langit-langit tiba-tiba runtuh membawa dinding dan lantai atas ikut ambruk menimpa.
Bangunan yang rubuh ini ternyata sedang mengalami proses perluasan. Dua lantai tambahan sedang dibangun, namun tidak melalui jalur legal yang seharusnya. Tanpa izin sah dan tanpa penguatan struktur memadai, proyek itu justru menambah beban besar pada fondasi yang sudah tua. Alhasil, konstruksi tak mampu lagi menyangga tekanan dari atas, hingga akhirnya runtuh dan membawa petaka.
Para petugas penyelamat langsung turun tangan. Ekskavator dikerahkan, puing-puing diangkat, suara tangis dan teriakan histeris terdengar silih berganti. Dalam waktu kurang dari 24 jam, sekitar 80 persen reruntuhan berhasil dibersihkan. Tapi pekerjaan belum selesai, sebab masih ada santri yang belum ditemukan, diduga tertimbun di bawah lapisan beton.
“Kami masih terus mencari korban yang mungkin terperangkap,” ujar salah satu anggota tim SAR kepada Reuters.
Sebanyak 97 orang dilaporkan mengalami luka ringan. Beberapa lainnya harus dirawat intensif karena kondisi kritis. Hanya satu santri yang dilaporkan selamat tanpa luka. Satu dari ratusan.
Bangunan pesantren banyak yang tak punya izin konstruksi
Tragedi ini membuka fakta yang selama ini seolah didiamkan. Dari sekitar 42 ribu pondok pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, hanya segelintir yang memiliki izin bangunan resmi. Dalam laporan Reuters, tercatat hanya sekitar 50 pesantren yang punya izin konstruksi yang sah. Angka yang menyedihkan, jika mengingat fungsi vital pesantren dalam pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.
Regulasi soal bangunan di Indonesia sebenarnya cukup jelas. Sejak 2002, aturan mengenai konstruksi menekankan pentingnya izin dan kelayakan teknis. Namun pada praktiknya, banyak bangunan religius dan pendidikan berbasis komunitas dibangun secara mandiri, tanpa pengawasan yang ketat dari pemerintah setempat. Celah ini kerap dimanfaatkan demi efisiensi biaya dan waktu, meski taruhannya nyawa manusia.
Al Khoziny bukan satu-satunya. Namun insiden ini menjadi penanda bahwa sistem pengawasan kita masih sangat rapuh. Banyak pondok pesantren berdiri di atas tanah wakaf, dibangun dengan dana swadaya masyarakat, dan sering kali menggunakan tukang bangunan seadanya tanpa perhitungan rekayasa struktur yang layak.
“Ini peringatan keras bagi semua pihak, bahwa pembangunan pendidikan tak bisa sembarangan,” ujar pakar tata kota dalam wawancara di stasiun televisi nasional.
Tak hanya soal izin, faktor keselamatan bangunan juga perlu jadi perhatian. Banyak pesantren yang memiliki struktur bertingkat, namun tak punya jalur evakuasi atau sistem deteksi bencana. Situasi ini menambah kompleksitas saat insiden seperti ini terjadi.
Kini, pemerintah pusat menyatakan akan mengevaluasi total pembangunan fasilitas pesantren. Kementerian terkait diminta menyusun regulasi pengawasan yang lebih ketat. Tapi publik berharap bukan hanya regulasi, melainkan juga aksi nyata yang bisa mencegah tragedi berikutnya.
“Kami sudah bentuk tim investigasi. Semua aspek akan ditelusuri, mulai dari struktur bangunan, izin, sampai kemungkinan kelalaian,” ujar juru bicara pemerintah daerah.
Masyarakat sekitar pesantren masih berkabung. Suasana duka menyelimuti Buduran. Bendera setengah tiang dikibarkan, dan doa tahlil terus berkumandang. Banyak warga yang kehilangan anak, saudara, atau teman akibat kejadian ini. Tidak ada yang sanggup menahan air mata ketika jenazah satu per satu dimakamkan.
Pengasuh pondok, KH Abdus Salam Mujib, akhirnya muncul ke publik. Dalam kondisi mata sembab, beliau meminta maaf kepada seluruh keluarga korban. Ia menyebut ini sebagai ujian dari Yang Maha Kuasa. Aktivitas belajar-mengajar di pesantren pun dihentikan sementara waktu.
Sidoarjo kembali dikejutkan oleh kenyataan pahit. Sebuah institusi yang diharapkan menjadi tempat aman dan nyaman bagi generasi muda, justru runtuh karena lalainya tanggung jawab konstruksi. Semua pihak kini diminta waspada dan belajar dari peristiwa ini.
Apa pun yang terjadi, nyawa-nyawa yang hilang tidak akan bisa kembali. Tapi kita masih bisa memilih untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Sebab setiap bata yang ditumpuk tanpa kehati-hatian, bisa menjadi batu nisan bagi masa depan.

