Pendaki Asal Sidoarjo Hilang di Gunung Buthak, Tim SAR Perluas Operasi Pencarian

Minggu ketiga Agustus 2025 menandai ketegangan baru di Gunung Buthak, perbatasan antara Kabupaten Malang dan Blitar. Seorang pemuda asal Sidoarjo, Chamdn Salman Alfarizi, dikabarkan menghilang secara misterius saat tengah melakukan pendakian bersama dua rekannya. Peristiwa ini bukan sekadar insiden alam biasa. Ini adalah pengingat getir tentang bahaya yang sering luput diperhitungkan oleh para pendaki muda, terutama ketika cuaca dan kondisi fisik tidak mendukung.
Chamdn, yang baru berusia 22 tahun, melakukan pendakian ke Gunung Buthak bersama dua temannya, Wahyu dan Dewa, pada Sabtu, 16 Agustus 2025. Mereka memulai perjalanan dari jalur Gunung Panderman di wilayah Kota Batu. Rencana awalnya tampak sederhana. Mereka akan mendirikan tenda, menikmati malam di sabana, lalu melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Namun apa yang terjadi pada malam itu mengubah semuanya.
Sekitar pukul 19.00 WIB, menurut pengakuan Wahyu dan Dewa, Chamdn keluar tenda untuk buang air kecil. Saat kembali, ia menunjukkan perilaku aneh. Ia mulai berbicara tidak jelas, terlihat linglung, dan menunjukkan tanda-tanda kehilangan orientasi. Indikasi awal menyebutkan bahwa ia mengalami gejala hipotermia, kondisi medis yang terjadi saat tubuh kehilangan panas lebih cepat dari produksinya. Tapi tak berhenti di situ. Chamdn bahkan sempat menyebut ingin naik gunung lain, sebuah pernyataan yang menimbulkan kecurigaan bahwa pikirannya sudah tidak jernih.
Proses pencarian di kawasan sabana dan jalur Gunung Panderman
Sekitar pukul 20.15 WIB, Chamdn dinyatakan hilang. Kedua temannya melakukan pencarian terbatas ke arah Sabana Agung, sebuah area yang dikenal cukup luas dan terbuka. Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Mereka memutuskan untuk menunggu hingga pagi sebelum melaporkan kejadian ini ke pos pendakian. Pada Minggu malam, 17 Agustus 2025, mereka resmi melaporkan kehilangan tersebut kepada petugas.
Tim SAR gabungan segera turun tangan. Koordinator Unit Siaga SAR Malang Raya, Yoni Fariza, mengonfirmasi bahwa pencarian dimulai segera setelah laporan diterima. Upaya pencarian melibatkan penyisiran area sabana, puncak, titik utara sabana, serta lokasi petilasan. Selain pencarian darat, mereka juga mengerahkan drone untuk memantau area dari udara. Langkah ini diambil demi memperluas cakupan pengamatan dan mempercepat identifikasi jejak korban.
Dalam rangka memudahkan proses evakuasi, jalur pendakian resmi Gunung Buthak ditutup sementara. Ini langkah logis, mengingat lalu lintas pendaki bisa menghambat operasi penyelamatan. Para pendaki yang sudah berada di jalur juga diminta untuk kembali turun demi keamanan bersama.
Situasi ini mengingatkan publik pada beberapa kejadian serupa yang pernah terjadi di pegunungan Jawa Timur. Gunung, dengan segala keindahannya, tetap menyimpan risiko. Terutama bagi mereka yang tidak cukup siap secara fisik maupun mental.
Gejala hipotermia dan ancaman di ketinggian
Dalam kasus Chamdn, dugaan awal mengarah pada hipotermia. Gejala ini memang bisa muncul tiba-tiba dan tanpa disadari. Tubuh menjadi lemas, ucapan kacau, dan pengambilan keputusan terganggu. Pada titik ekstrem, korban bisa mengalami halusinasi atau berjalan tanpa arah.
Sayangnya, informasi lengkap soal perlengkapan dan kondisi kesehatan Chamdn sebelum mendaki belum diungkap. Namun, reaksi tubuh terhadap dinginnya sabana malam hari bisa sangat berbahaya jika tidak dilindungi dengan pakaian hangat dan asupan energi cukup.
Gunung Buthak sendiri bukan jalur pendakian komersial utama seperti Semeru atau Arjuno. Namun popularitasnya meningkat beberapa tahun terakhir karena jalur relatif sepi dan panorama sabana yang menawan. Di sisi lain, minimnya fasilitas darurat dan jalur komunikasi yang terbatas membuat evakuasi di gunung ini kerap memakan waktu panjang.
Sampai berita ini ditulis, belum ada tanda-tanda keberadaan Chamdn. Tim SAR menyatakan masih melakukan pencarian secara aktif. Setiap kemungkinan, termasuk jalur menyimpang atau kondisi medis yang menyebabkan korban tidak sadarkan diri, tengah ditelusuri.
Publik di media sosial pun ikut mencermati perkembangan kasus ini. Banyak yang mengungkapkan empati dan harapan agar Chamdn ditemukan dalam kondisi selamat. Tak sedikit juga yang menyampaikan kritik soal minimnya edukasi keselamatan pendakian di kalangan muda.
Upaya pencarian saat ini terus dilanjutkan dengan mengoptimalkan seluruh potensi dan sumber daya yang tersedia. Drone pengintai udara, pelacakan jejak, dan komunikasi radio diintensifkan. Setiap jam menjadi sangat berarti. Ketahanan tubuh korban menjadi taruhan. Apakah ia cukup kuat bertahan hingga ditemukan?
Yoni Fariza menegaskan, “Kami berkomitmen melanjutkan pencarian secepat dan seefisien mungkin. Sampai detik ini, belum ada tanda-tanda keberadaan survivor. Tapi kami tidak akan menyerah.”
Harapan tetap menggantung di udara tipis pegunungan. Semoga kabar baik segera datang, sebelum waktu benar-benar kehabisan ruang untuk menyelamatkan nyawa yang hilang.
Sumber: [BeritaSatu] – Pendaki Asal Sidoarjo Hilang di Gunung Buthak, Pencarian Diperluas – 19 Agustus 2025

