Pameran Keterbukaan Informasi Publik 2025: Momentum Transparansi di Era Digital

Suasana gedung Birawa Assembly Hall di Jakarta mulai ramai sejak pagi 24 Juli 2025. Para perwakilan badan publik, lembaga pemerintah, hingga aktivis informasi publik berdatangan, mengikuti satu agenda yang menjadi sorotan nasional: soft launching Pameran Keterbukaan Informasi Publik 2025. Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda arah baru dalam transparansi pengelolaan negara di era digital.
Ketua Komisi Informasi Pusat (KIP), Donny Yoesgiantoro, membuka acara tersebut dengan menekankan bahwa keterbukaan informasi bukan hanya hak warga negara, tapi juga kebutuhan mendasar dalam membentuk pemerintahan yang responsif, adil, dan partisipatif. Pameran ini disiapkan sebagai rangkaian menuju acara puncak berupa seminar nasional dan malam penghargaan keterbukaan informasi yang akan digelar pada Oktober 2025 mendatang di tempat yang sama.
Transparansi Jadi Napas Baru Birokrasi
Pemerintah saat ini menghadapi tekanan besar dari publik terkait akuntabilitas dan efisiensi. Wacana pemangkasan anggaran kementerian hingga triliunan rupiah melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 menjadi latar belakang penting mengapa keterbukaan informasi semakin relevan. Masyarakat tidak lagi puas dengan sekadar laporan formal. Mereka ingin tahu bagaimana kebijakan dirumuskan, dana dikelola, dan layanan dijalankan.
Pameran ini mencoba menjawab kebutuhan itu. Setiap booth mewakili instansi yang menunjukkan inovasi layanan informasi, dari digitalisasi layanan publik hingga inisiatif keterlibatan masyarakat. Donny menyebut bahwa masyarakat yang bisa mengakses informasi secara terbuka akan lebih aktif dalam pengawasan dan penyampaian aspirasi. Ini bukan soal data semata, tapi soal membangun kepercayaan.
Peran Strategis Digital dalam Akses Informasi
Di tengah gelombang digitalisasi, ekspektasi terhadap kecepatan dan keterbukaan kian meningkat. Badan publik didorong untuk tidak hanya membuka data, tetapi juga menyajikannya dalam format yang mudah diakses dan dipahami. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mereformasi pola komunikasi institusi negara.
Salah satu yang menarik perhatian adalah booth yang menampilkan dashboard transparansi real-time dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial. Informasi soal bansos, anggaran penanganan stunting, hingga capaian imunisasi bisa dipantau langsung oleh pengunjung. Narasi transparansi pun bergeser: dari sekadar “dibuka” menjadi “dibagikan secara aktif dan interaktif”.
UMKM, Komunitas Rentan, dan Keadilan Akses
Tak hanya lembaga besar, pelibatan UMKM dan kelompok masyarakat rentan juga jadi sorotan. Dalam sesi talkshow, sejumlah pembicara menyoroti pentingnya keadilan dalam akses informasi. Banyak UMKM belum tahu cara mendapatkan pendanaan pemerintah atau peluang promosi produk karena informasi tak merata.
Kelompok disabilitas, perempuan di pedesaan, hingga warga lanjut usia menjadi bagian penting dalam diskusi. KIP menegaskan bahwa pameran ini bukan sekadar etalase, tapi ruang dialektika untuk menyusun rekomendasi kebijakan agar keterbukaan informasi tidak hanya dinikmati oleh segelintir kalangan.
Menuju Budaya Transparansi Berbasis Partisipasi
Pameran ini bukan peristiwa satu hari. Ia adalah bagian dari ekosistem yang lebih besar: mengubah cara berpikir birokrasi dan masyarakat terhadap informasi. Donny menyampaikan bahwa budaya transparansi tak bisa dibangun hanya dengan regulasi. Harus ada perubahan paradigma, dari “menyimpan dan memberi jika diminta” menjadi “menyediakan dan menjelaskan sebelum diminta”.
Langkah ini, menurutnya, bisa memperkecil jurang ketidakpercayaan antara publik dan pemerintah. Ketika informasi terbuka, wacana publik bisa lebih sehat. Kritik yang muncul lebih konstruktif. Dan di saat yang sama, apresiasi juga tumbuh karena masyarakat tahu proses dan hasilnya.
Dalam konteks yang lebih luas, Pameran Keterbukaan Informasi Publik 2025 menjadi cerminan dari arah baru kebijakan publik di Indonesia. Ia hadir di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap birokrasi yang efisien, demokratis, dan berpihak pada warga. Dengan kata lain, ini bukan hanya pameran. Ini adalah refleksi dari harapan publik dan komitmen negara dalam membangun tata kelola yang setara dan transparan.
Sumber: Artikel.News – Keterbukaan Informasi, Napas Pengelolaan Negara yang Responsif dan Berkeadilan – 24 Juli 2025

