Ojol Kepung Mako Brimob Kwitang Usai Rekannya Tewas Dilindas Barracuda

Ilustrasi malam hari saat ratusan ojol mengepung Mako Brimob Kwitang di Jakarta Pusat

Suasana malam di Jakarta berubah mencekam ketika ratusan pengemudi ojek online memadati kawasan Kwitang, Jakarta Pusat. Di bawah langit yang mulai mendung, kemarahan memuncak setelah kabar menyebar bahwa salah satu rekan mereka, Affan Kurniawan (21), tewas dilindas kendaraan taktis milik Brimob saat melintas di Pejompongan. Tak butuh waktu lama, massa mengepung Markas Komando Brimob Polda Metro Jaya yang terletak tak jauh dari lokasi kejadian.

Aksi ini bukan sekadar bentuk solidaritas, melainkan seruan pilu yang keluar dari rasa kehilangan dan amarah yang tertahan. Teriakan “Nyawa dibayar nyawa!” menggema di depan gerbang markas, mempertegas tuntutan agar pihak kepolisian segera bertanggung jawab atas kejadian yang telah merenggut nyawa seorang pengemudi muda yang sedang mencari nafkah.

“Sini lo! Buka!” pekik salah satu pengemudi sambil memukul-mukul pagar besi markas dengan helm yang masih menempel di tangannya.

Kejadian tersebut berawal dari bentrokan antara aparat dan demonstran yang terjadi di kawasan sekitar Gedung DPR/MPR. Saat suasana memanas dan massa mulai kacau, sebuah Barracuda milik Brimob melaju menerobos kerumunan. Affan yang sedang melintas, diduga terpeleset dan jatuh ke jalan. Dalam situasi penuh tekanan, kendaraan itu terus bergerak maju, hingga akhirnya tubuh Affan tergilas roda besi yang besar.

Massa Ojol Kepung Mako Brimob Kwitang Menuntut Keadilan

Tak lama setelah kejadian itu, informasi cepat menyebar melalui grup-grup komunikasi pengemudi ojol. Dalam hitungan menit, ratusan motor menuju ke arah Kwitang. Mereka bukan hanya datang untuk bertanya, tetapi mendesak kejelasan dan menuntut pertanggungjawaban atas nyawa yang hilang.

Di lokasi, suasana makin panas. Live TikTok dan video-video yang diunggah menunjukkan ekspresi kemarahan yang nyata. Beberapa pengemudi berdiri di atas jok motornya, membawa spanduk bertuliskan “Kami Tidak Diam”. Yang lain menyalakan klakson bersamaan, menciptakan gelombang suara yang bergema di malam yang mulai sunyi.

“Kita tidak akan bubar sampai ada penjelasan. Affan bukan hewan, dia manusia,” ujar salah satu perwakilan Koalisi Ojol Nasional yang hadir di lokasi.

Barikade aparat mulai dibentuk, namun para pengemudi tetap bertahan di depan markas. Ketegangan sempat meningkat ketika salah satu rantis lain keluar dari area Mako, memicu kepanikan sesaat dari massa yang sudah siaga dengan emosi yang mendidih.

Di tengah kekacauan, seorang personel Brimob bernama Jemmy keluar untuk menemui massa. Dengan suara yang berusaha tenang, ia menyampaikan bahwa pihak internal sudah mengambil langkah awal.

“Pihak yang terkait sudah diperiksa di dalam. Kami mohon tenang. Ini sedang ditangani secara prosedural,” ucapnya di hadapan kerumunan.

Namun reaksi itu tidak meredam gejolak. Banyak dari massa tetap bertahan di sekitar area hingga larut malam, sebagian berteduh di bawah jembatan, lainnya terus berdiri di tengah jalan. Bagi mereka, pernyataan singkat belum cukup membalas nyawa yang telah melayang.

Rasa Kehilangan dan Solidaritas yang Membuncah di Jakarta Pusat

Bukan hanya kerusuhan yang terlihat malam itu, tapi juga potret solidaritas yang langka. Para pengemudi ojol yang biasa bersaing di jalan, malam itu menyatu dalam satu barisan, satu suara. Mereka membagikan air, menyalakan lilin, dan mengheningkan cipta di tempat kejadian awal di Pejompongan sebelum bergerak ke Kwitang.

Affan dikenal sebagai sosok yang ramah dan tekun. Beberapa rekan mengunggah kenangan bersamanya di media sosial, lengkap dengan foto terakhir yang diambil beberapa jam sebelum insiden tragis itu terjadi. Di tengah dominasi informasi visual dan narasi digital, kabar ini menyebar cepat, menciptakan gelombang reaksi tidak hanya dari kalangan ojol, tapi juga masyarakat umum.

Dalam konteks urban Jakarta, Kwitang malam itu menjadi simbol dari akumulasi rasa frustrasi, ketidakadilan, dan perlawanan warga terhadap kekuasaan yang dianggap gagal melindungi warganya sendiri. Nyawa yang hilang tak bisa dikembalikan, tapi keadilan masih bisa diperjuangkan.

Beberapa perwakilan komunitas ojol berencana melanjutkan aksi damai keesokan harinya ke Kantor Kapolda Metro Jaya. Mereka menuntut investigasi menyeluruh, sanksi terhadap pelaku, serta penyusunan ulang prosedur pengamanan yang selama ini dianggap semena-mena.

“Kami hanya ingin rasa aman. Kalau kerja saja bisa mati begitu saja, untuk apa aturan dibuat?” kata seorang pengemudi yang enggan disebut namanya.

Peristiwa ini membuka kembali diskusi publik tentang relasi antara aparat keamanan dan warga sipil dalam situasi genting. Kekerasan struktural yang muncul bukan hanya karena alat, tapi juga cara berpikir yang menjadikan warga sipil sebagai objek, bukan subjek dalam pengambilan keputusan.

Kematian Affan Kurniawan mungkin jadi headline hari ini, namun dampaknya bisa bertahan lebih lama jika suara-suara yang berkumpul di depan Mako Brimob Kwitang malam itu terus digaungkan.

Sumber: Disway.id – Ojol Geruduk Mako Brimob Kwitang Imbas Rekannya Dilindas Barracuda: Nyawa Dibayar Nyawa! – 28 Agustus 2025

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *