ULM Jamin Biaya Kuliah Mahasiswa Difabel Hingga Lulus Lewat Beasiswa Swasta

ilustrasi mahasiswa difabel di kampus universitas dengan suasana edukatif dan inklusif

Di tengah upaya mewujudkan kesetaraan akses pendidikan tinggi bagi seluruh warga negara, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengumumkan langkah progresif yang menyentuh langsung jantung keadilan sosial. Melalui inisiatif beasiswa yang didukung oleh negara dan sektor privat, kampus negeri ini resmi menjamin pembiayaan kuliah bagi puluhan mahasiswa penyandang disabilitas hingga mereka menyelesaikan masa studi secara tuntas.

Langkah ini bukan sekadar simbol komitmen, melainkan bentuk nyata pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Sejak beberapa tahun terakhir, inklusivitas bukan lagi jargon, tetapi menjadi standar baru yang pelan-pelan diwujudkan dalam berbagai lini kebijakan kampus.

“ULM memastikan bahwa seluruh mahasiswa difabel yang diterima akan dibantu secara penuh pembiayaannya hingga lulus,” ujar Muhammad Rusmin Nuryadi, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ULM, dalam pernyataan resmi.

Program beasiswa ini telah berjalan sejak tahun 2017, berawal dari dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Namun mulai tahun 2024, jaringannya diperluas dengan menggandeng perusahaan pertambangan batu bara, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), yang berbasis operasional di Kalimantan Selatan. Kolaborasi ini membuka kesempatan lebih besar bagi mahasiswa difabel untuk menempuh studi tanpa beban finansial.

Program beasiswa difabel ULM didukung dana sektor swasta

Sebanyak 20 mahasiswa difabel dijamin mendapatkan beasiswa penuh dari PT BYAN setiap tahunnya. Komitmen ini tidak berhenti pada biaya semesteran semata, melainkan berlaku hingga mereka berhasil menyandang gelar sarjana.

Rusmin menegaskan bahwa bentuk dukungan ini bukan hanya berkutat pada nominal uang kuliah, tetapi mencakup pula sistem pendampingan yang dirancang secara khusus untuk menjawab kebutuhan pembelajaran mahasiswa difabel.

“Kami ingin memberikan pengalaman belajar yang setara, adil, dan tetap kontekstual dengan kebutuhan tiap mahasiswa difabel,” ucapnya.

Dari segi teknis, penerima beasiswa tak hanya dibebaskan dari pungutan biaya akademik, namun juga mendapat dukungan logistik seperti akomodasi ramah disabilitas dan fasilitator pengampu di beberapa kelas.

Model kolaborasi antara institusi pendidikan dan dunia industri ini bukan hal baru, tetapi untuk konteks penyandang disabilitas, langkah ini tergolong pelopor. Banyak kampus masih berada di tahap eksplorasi atau perancangan, sementara ULM sudah mengeksekusi dengan pola sistematis.

Menjawab tantangan pendidikan inklusif di daerah

Posisi geografis ULM yang berada di Kalimantan Selatan membuat program ini punya peran strategis dalam memperkuat pemerataan akses pendidikan tinggi di luar Pulau Jawa. Terlebih bagi penyandang disabilitas yang selama ini menghadapi tantangan ganda: hambatan geografis dan keterbatasan fisik.

Dalam skala nasional, keberadaan program ini bisa menjadi contoh bagi perguruan tinggi lain. Terutama dalam hal membuka kanal pembiayaan alternatif di luar skema reguler pemerintah. Ketika swasta dilibatkan secara aktif dalam misi sosial, hasilnya dapat menjangkau golongan yang selama ini kerap tercecer dari sistem.

“Kami tidak ingin mahasiswa difabel berhenti kuliah karena kendala biaya. Kami ingin mereka menyelesaikan studinya, meraih mimpi mereka, dan membuktikan bahwa disabilitas bukan hambatan,” imbuh Rusmin.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi betapa besar keinginan kampus untuk mematahkan stigma yang mengekang akses dan kesempatan mahasiswa difabel di dunia akademik. Perubahan pola pikir institusional ini juga berdampak positif pada budaya kampus secara keseluruhan.

Dari beasiswa ke gerakan sosial yang lebih luas

Dampak keberadaan beasiswa ini tak hanya dirasakan oleh para penerima. Secara tak langsung, kebijakan ini menciptakan atmosfer akademik yang lebih inklusif dan terbuka. Keberadaan mahasiswa difabel dalam ruang kelas secara aktif, partisipatif, dan dihargai, mengubah dinamika sosial mahasiswa lainnya.

Mahasiswa non-difabel pun turut belajar mengenali, memahami, dan menghargai perbedaan secara alami. Ruang dialog antar individu dengan latar belakang berbeda menjadi semakin lebar. Pendidikan tak lagi hanya soal nilai ujian dan presensi, tetapi juga tentang bagaimana menghargai kemanusiaan dalam segala bentuknya.

ULM sendiri saat ini sedang menyusun rencana untuk memperluas kemitraan dengan sektor-sektor industri lainnya. Harapannya, pola pendanaan beasiswa ini dapat berlanjut secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak mahasiswa dari kelompok marjinal lainnya, termasuk mereka yang berasal dari daerah terpencil dan keluarga dengan latar ekonomi rendah.

“Kami ingin program ini bukan hanya jadi CSR satu arah, tetapi menjadi gerakan sosial dua arah yang saling menguatkan antara dunia industri dan dunia pendidikan,” tutup Rusmin dengan nada optimistis.

Dengan langkah konkret seperti ini, ULM bukan hanya membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai katalisator perubahan sosial. Ketika beasiswa tidak lagi sekadar angka di proposal, tetapi menjelma menjadi peluang nyata untuk hidup yang lebih layak bagi mereka yang terpinggirkan, di situlah pendidikan menjelma menjadi kekuatan perubahan yang hakiki.

Sumber: Antara News – ULM jamin biaya kuliah 90 mahasiswa difabel hingga lulus melalui program beasiswa – 23 Agustus 2025

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *