MPLS Ramah Tanpa Perpeloncoan: Menanam Karakter Sejak Awal Tahun Ajaran

Ilustrasi guru perempuan membimbing siswa baru dalam suasana MPLS ramah tanpa perpeloncoan

Tahun ajaran baru 2025/2026 membawa arah baru dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Indonesia. Jika sebelumnya MPLS kerap diasosiasikan dengan perpeloncoan dan praktik tak mendidik, kini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mendorong seluruh sekolah untuk menjalankan MPLS yang ramah, humanis, dan membangun karakter.

Dorongan itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor 10 Tahun 2025 yang dikirimkan ke seluruh kepala daerah. Instruksi ini bukan sekadar imbauan, tetapi menjadi penanda arah reformasi budaya sekolah sejak hari pertama siswa masuk. Tak ada lagi atribut aneh, teriakan tanpa makna, atau perlakuan merendahkan yang dulu dianggap bagian dari “tradisi”.

MPLS yang Membentuk, Bukan Menekan

Poin utama dari kebijakan MPLS Ramah adalah pelarangan segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun psikis. Tidak boleh lagi ada kegiatan yang menjatuhkan martabat siswa baru, termasuk yel-yel yang mempermalukan, tugas aneh, atau hukuman tak masuk akal.

Sebagai gantinya, kegiatan MPLS didorong untuk fokus pada penguatan nilai-nilai karakter. Guru dan panitia diinstruksikan memfasilitasi aktivitas yang menumbuhkan empati, disiplin, serta adaptasi yang sehat terhadap lingkungan sekolah. Diskusi reflektif, permainan kolaboratif, hingga pengenalan ruang aman bagi siswa menjadi contoh pendekatan baru.

Tak hanya itu, sekolah juga diminta melibatkan siswa lama dalam peran sebagai pendamping, bukan “senior” yang mengintimidasi. Relasi horizontal yang saling mendukung dipandang jauh lebih efektif dalam membantu siswa baru bertransisi.

Tantangan di Lapangan: Budaya Lama yang Masih Bertahan

Meski secara kebijakan sudah jelas, implementasi di tingkat satuan pendidikan tetap menjadi tantangan tersendiri. Di banyak sekolah, terutama di daerah dengan tradisi hierarkis kuat, MPLS masih dimaknai sebagai momen “uji mental”.

Tidak sedikit pula guru yang menganggap MPLS cukup dijalankan secara seremonial. Padahal, menurut Kemendikbudristek, kegiatan ini seharusnya menjadi ruang awal membentuk atmosfer sekolah yang inklusif, ramah, dan membangun rasa memiliki terhadap institusi pendidikan.

Komitmen kepala sekolah, pengawas, dan dinas pendidikan daerah akan sangat menentukan. Tanpa pengawasan ketat dan pendampingan metodologis, surat edaran ini bisa berakhir hanya sebagai dokumen formalitas.

Membangun Fondasi Karakter Sejak Hari Pertama

Mengapa MPLS penting? Karena inilah momen pertama siswa mengenal lingkungan sosial barunya. Dalam psikologi pendidikan, fase awal pertemuan dengan lingkungan baru sangat menentukan sikap dan motivasi belajar jangka panjang.

MPLS ramah memberi ruang bagi siswa untuk merasa dihargai dan diterima. Itu menciptakan iklim belajar yang suportif dan memicu keterlibatan aktif. Ketika siswa merasa aman secara psikologis, mereka lebih berani bertanya, lebih terbuka terhadap tantangan, dan lebih terlibat dalam dinamika kelas.

Tidak kalah penting, MPLS bisa menjadi ruang awal internalisasi nilai kebangsaan dan kepedulian sosial. Program seperti penanaman pohon, simulasi tanggap bencana, atau kerja bakti sekolah bisa dimanfaatkan sebagai media pendidikan karakter yang konkret.

Peran Orang Tua dan Masyarakat

Transformasi MPLS tidak bisa dibebankan hanya pada sekolah. Peran orang tua sangat penting dalam mengawasi dan memberi masukan terhadap kegiatan MPLS. Jika terdapat praktik menyimpang, kanal pelaporan harus dibuka luas dan ditindaklanjuti secara transparan.

Media sosial juga berperan besar dalam mendukung perubahan. Unggahan positif mengenai MPLS ramah bisa menjadi contoh baik bagi sekolah lain. Sebaliknya, publikasi praktik perpeloncoan bisa menjadi peringatan tegas bahwa pengawasan publik kini makin ketat.

Penutup: Sekolah Harus Jadi Tempat yang Aman

Kita tidak bisa membiarkan sekolah jadi ruang kekerasan yang terselubung atas nama “tradisi”. MPLS Ramah bukan sekadar kebijakan pendidikan, tapi gerakan moral bersama untuk memanusiakan siswa sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di ruang belajar.

Membangun karakter bukan lewat bentakan atau intimidasi, melainkan lewat pengasuhan yang tegas tapi penuh empati. Bila benar dijalankan, MPLS bisa menjadi titik balik dari sistem pendidikan yang selama ini terlalu menekankan disiplin, tapi lupa memberi ruang pada kehangatan dan penerimaan.

Sumber: Batam Today – MPLS Ramah Mulai Diterapkan, Bebas Perpeloncoan dan Tekankan Karakter – 12 Juli 2025

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *